Pages

Wednesday, November 25, 2015

Pertarungan Ideologi (I)



When I turn to Bible, I discover that my ancestor’s name was Abraham. He appears to have come from the city of Ur in southern Mesopotamia. He left the sedentary world of Ur—the first civilization created by man—and became a wanderer.
— Chaim Potok

Semua anak yang dididik dalam tradisi tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen, Islam, pasti hafal kisah Nabi Ibrahim meninggalkan Mesopotamia (kini Irak) menuju tanah Palestina dan menjadi leluhur sekalian nabi yang diimani para penganut ketiga agama samawi tersebut. Tetapi pemahaman bahwa kepergian nabi pertama yang diakui keberadaannya secara arkeologis itu terkait dengan persoalan sumber daya tentu hanya dimiliki orang-orang dewasa, sebagaimana terlihat dalam uraian berikut.
“Ia mengembara ke utara melalui Assiria, lalu ke barat lewat Syria, dan ke selatan masuk Palestina menyusuri lengkung tak rata hamparan tanah yang sebagian besar subur yang dibatasi pegunungan di sebelah utara dan timur serta gurun pasir di selatan. Selama musim kelaparan, ia menyusuri lengkung itu hingga ke ujung baratnya, Mesir, lalu kembali ke Palestina. Lengkung bumi hijau itu dinamai Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent) oleh sarjana Amerika bernama James Henry Breasted.”1
Dalam upaya memenuhi kebutuhan akan sumber daya, manusia menempuh berbagai macam cara seperti perdagangan, yang sering ditopang dengan perang, atau perang itu sendiri. Wilayah Bulan Sabit Subur yang kini disebut Timur Tengah itu tak pernah sepi dari kegiatan perdagangan dan perang. Dalam sejarah Islam sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kota kelahiran Nabi Muhammad dikenal karena perdagangannya. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, Muhammad dikenal luas sebagai pedagang yang piawai. Janji Nabi Muhammad bahwa pedagang yang jujur akan mendapatkan tempat di surga bersama para syuhada bisa dipahami sebagai pemuliaan Islam terhadap perdagangan, yang dipandang rendah dalam beberapa keyakinan lain. Uraian Charles Le Gai Eaton berikut bisa menggambarkan betapa pentingnya peran pedagang dalam sejarah dan perkembangan Islam.
Selama Abad Pertengahan para sarjana, dai, dan pedagang Muslim menjelajahi seluruh dunia Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia dengan paspor kalimat La ilah illa ‘Llah. Perjalanan jauh mereka menjadi mudah berkat ajaran bahwa menunjukkan keramahan dan memberi bantuan kepada musafir adalah ibadah. Begitu jauhnya mereka bepergian hingga wajar jika ada yang bertanya-tanya sarana transportasi apa yang mereka gunakan kalau bukan karpet terbang yang legendaris itu.
Banyak pedagang Muslim yang bepergian melampaui batas Darul Islam. Seorang pedagang dari Kairo bisa menukar surat berharganya dengan uang tunai di Canton. Meski begitu mereka umumnya berusaha agar tetap berada di wilayah dunia beradab dan tidak mau mengambil risiko memasuki Eropa yang gelap—di mana hampir bisa dipastikan mereka akan dibunuh—walaupun mereka pasti tahu tentang wilayah itu dari para sarjana Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam besar di Spanyol. Seorang penulis masa itu berpendapat, dengan niat baik yang tulus, bahwa orang kulit putih (bertolak belakang dengan anggapan umum saat itu) tak kalah cerdas dari orang-orang kulit hitam Afrika; tetapi secara keseluruhan Eropa pertengahan di balik pegunungan Pyrenees tampaknya merupakan daerah penuh kebejatan dan barbarisme.
Pada tahun 720 sesungguhnya pasukan Muslim sudah berhasil menyeberangi hambatan besar pegunungan Pyrenees dan seluruh Eropa Barat terbentang bagi mereka. Mereka dikalahkan oleh orang-orang Frank dalam sebuah pertempuran di daerah yang kini berada di antara kota Tours dan Poitiers, tetapi patut diragukan jika pertempuran ini dipandang menentukan, dan bagaimanapun juga sayap timur pasukan sudah menembus Valais di Swiss. Kemungkinan lebih besar yang menjadi sebab adalah hutan-hutan gelap di depan mereka sungguh tidak memikat; dan dingin menggigilkan negeri-negeri empat musim pastilah terasa seperti dinginnya kematian bagi mereka; dan sudah barang tentu gelombang besar ekspansi, saat itu, sudah kelelahan dan mencapai batas alaminya. Maju beberapa mil lagi pasukan itu dan ceritanya akan sangat berbeda, dengan seorang sultan duduk di singgasana Prancis, amirnya menempati istana di tepi Sungai Thames, dan anak cucu Eropa mendiami Amerika Utara di bawah panji-panji Islam.2
Pada tahun 1683 pasukan Utsmani mengepung Wina untuk terakhir kalinya, pasukan yang sudah kelelahan. Dunia Islam sudah berada dalam posisi bertahan selama bertahun-tahun menghadapi kekuatan Barat yang memiliki senjata api dan kapal-kapal yang lebih unggul. Dan pertahanan itu pun runtuh. Inggris menguasai India dan Belanda berkuasa di Indonesia. Sementara Rusia mengobrak-abrik kaum Muslimin di Balkan.
Adapun kebangkitan Barat melalui jalan kapitalisme diuraikan dengan jelas oleh Michel Beaud dalam buku A History of Captalism sebagaimana dikutip berikut:
Kapitalisme dibentuk dalam masyarakat pedagang dan moneter Eropa Barat. Sebetulnya banyak masyarakat pedagang dan moneter yang pernah ada di dunia, tetapi tidak berkembang menjadi bentuk baru kapitalisme ini, yang mempunyai kemampuan besar kreatif dan destruktif semacam itu.
Masyarakat feodal sudah mapan pada abad kesebelas; dalam kerangka estate, organisasi produksi (perbudakan, kerja paksa, korve) dan pemaksaan kerja berlebihan (dalam bentuk penyewaan tenaga kerja) dilakukan demi keuntungan seigneur, bangsawan tinggi pemilik tanah pemegang hak-hak prerogatif politik dan yuridis.
Kendati demikian, masyarakat feodal nyaris tidak mapan ketika proses kehancurannya bermula. Penyewaan tenaga kerja berubah menjadi penyewaan barang atau peminjaman uang, dengan perkembangan buruh bebas dan bentuk-bentuk kepemilikan petani. Berbarengan dengan itu terjadi pembaruan perdagangan lewat pekan raya niaga, pengaktivan kembali kelas artisan (dalam bingkai gilda), sebuah renaisans kehidupan perkotaan, dan pembentukan borjuasi niaga. Dalam pembusukan tatanan feodal inilah pembentukan kapitalisme merkantil berakar.
Selama satu periode beberapa abad “perjalanan panjang” menuju kapitalisme meluas ke arah ini: sebuah proses kompleks dan kait-mengait yang melibatkan formasi borjuasi saudagar dan perbankan, kemunculan bangsa-bangsa dan pembentukan negara modern, ekspansi perdagangan dan dominasi berskala global, perkembangan teknologi transportasi dan produksi, pemberlakuan mode baru produksi dan kemunculan sikap serta ide-ide baru.
Tahap pertama dari perjalanan panjang ini ditandai oleh penaklukan dan penggarongan Amerika (abad keenam belas), tahap kedua ditandai dengan kebangkitan dan peneguhan borjuasi (abad ketujuh belas).
Perang Salib merupakan peluang untuk menghimpun kekayaan luar biasa, yang paling mencolok adalah yang dilakukan Ordo Templar. Perdagangan, perbankan, dan keuangan mula-mula berkembang di republik-republik Italia abad ketiga belas dan keempat belas, selanjutnya di Belanda dan Inggris. Dengan ditemukannya mesin cetak, kemajuan dalam metalurgi, pemanfaatan tenaga air, dan penggunaan lori dalam pertambangan, peruh kedua abad kelima belas ditandai oleh kemajuan nyata dalam produksi logam dan tekstil. Pada masa itu meriam dan senjata-senjata api lainnya mulai diproduksi untuk pertama kalinya, sementara penyempurnaan dalam konstruksi kapal layar ringan bertiang dua dan dalam teknik-teknik navigasi memungkinkan dibukanya rute-rute maritim baru.
Modal, barang dagangan yang kian melimpah, kapal layar, dan senjata: inilah sarana ekspansi bagi perniagaan, penemuan, dan penaklukan.
Pada gerakan yang sama dan di atas landasan yang sama penghancuran tatanan feodal, monarki-monarki besar menggalang kekuatan melalui perkawinan, dan membangun imperium dan kerajaan dari penaklukan-penaklukan perang. Jauh sebelum persatuan nasional tercapai, negara-negara kuat bekerja keras untuk menggembungkan otonomi mereka dalam hubungannya dengan kepausan. Seruan bagi reformasi Gereja membuka jalan bagi gerakan Reformasi, yang menjadi mesin perang melawan Paus. Walaupun moralitas Abad Pertengahan mengagungkan harga yang jujur dan melarang peminjaman uang dengan bunga, moralitas ini sudah diporak-porandakan sewaktu Calvin menghalalkan perniagaan dan peminjaman dengan bunga, sebelum dia melangkah “untuk menjadikan keberhasilan perdagangan sebagai tanda pilihan ilahi.”
Raja-raja haus kebesaran dan kekayaan, negara-negara bertarung demi supremasi, para saudagar dan bankir terpacu untuk memperkaya diri: inilah kekuatan yang menggerakkan perdagangan, penaklukan dan perang; mensistemasi penjarahan; mengorganisasi perdagangan budak; dan mengerangkeng gelandangan guna memaksa mereka bekerja.3
sejarah kapitalisme
Michel Beaud, A History of Capitalism



No comments:

Post a Comment