Pages

Sunday, March 6, 2016

Eropa



711 M. Tujuh ribu prajurit Barber Afrika Utara menyeberangi selat menuju Spanyol dan mendarat di dekat gunung karang. Karang itu mengabadikan nama panglima pasukan tersebut, Tarik bin Ziad, hingga hari ini: Gibraltar, Jabal Tarik. Setelah menggulung tentara Visigot, kekuasaan kaum Muslim selama delapan ratus tahun di Spanyol dimulai. Hampir selama berkuasanya dinasti-dinasti Islam di semenanjung Iberia ini orang Yahudi hidup dalam kurun yang dalam sejarah mereka disebut keemasan. Benjamin Disreali memandang sejarah Yahudi masa Spanyol Islam penuh nostalgia.

Sejarah yahudi di Eropa
Benjamin Disraeli


Pergantian bab-bab sejarah ada kalanya memang menakjubkan. Seorang pangeran Arab pengembara datang ke sebuah negeri dan membangun sebuah dinasti yang nantinya menyebarkan budaya Yunani kuno ke Eropa dan juga memajukan budaya itu dengan menyokong penelitian-penelitian orisinal. Astrolob, alat kuno sederhana navigasi, nantinya disempurnakan di Kordova dan dipakai para pelaut hingga ditemukan sekstan pada abad kedelapan belas; geometri bidang datar dan bulatan ditemukan; botani dan farmakologi menjadi sains; seorang ahli bedah Muslim bernama Abulcasis nantinya menulis ensiklopedia kedokteran yang, dalam terjemahan bahasa Ibrani dan Yunani, mempengaruhi ilmu kedokteran Eropa selama berabad-abad. Dan seorang dokter Yahudi, memantulkan kebijaksanaan dan martabat cinta pada ilmu di hati para khalifahnya, nantinya menyuburkan budaya Yahudi di Spanyol yang mengubah watak Yudaisme selama-lamanya.
Pangeran Arab pengembara itu adalah Abdur Rahman III, “Khalifah Umayah Murah Hati.” Dokter Yahudi itu adalah Hasdai Ibn Shaprut. Secara umum di kebanyakan negeri Islam hubungan antara kaum Muslimin dan Yahudi berjalan baik dan positif. Hubungan itu memburuk sejak Israel berdiri. Berdirinya Israel juga mencabut hak-hak sipil orang Yahudi di negara-negara Islam.
Spanyol Islam runtuh pada tahun 1492 diganti oleh Spanyol Katolik di bawah Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castille. Burung-burung bul-bul kembali ke padang pasir di seberang selat, orang-orang Yahudi menyebar ke Eropa.
Inilah dunia Yunani, walaupun penduduknya berbahasa Prancis, Inggris, Jerman, dan sedikit Latin. Negeri musuh Yahudi dalam perang peradaban Mediterania berlarut-larut. Yunani adalah ancaman berhala yang paling menjijikkan dan paling ditakui orang Yahudi. Bagi orang Yahudi, Yunani adalah Athena, Makedonia dan pemaksa Hellenisasi. Sebuah gymnasium menjadi salah satu penyulut perang peradaban selama dua puluh lima tahun antara Zeus versus YHWH.
Para pemikir Eropa Pencerahan memandang peradaban mereka menempuh jalan yang sesat saat terpengaruh oleh ide-ide Yahudi-Kristen yang menodai Eropa dengan sistem pemikiran oriental. Manusia Eropa yang dilahirkan kembali berkiblat ke Yunani dan Romawi kuno. Dunia kuno Cicero yang membenci Yahudi menitis dalam kata-kata Voltaire, “Mereka, mereka semuanya, dilahirkan dengan kefanatikan membara dalam hati, persis seperti orang Bretagne dan Jerman dilahirkan dengan rambur pirang. Sedikit pun aku tidak akan terkejut jika orang-orang ini suatu saat kelak akan menjadi ancaman maut bagi umat manusia.” Walaupun menyukai tulisan para nabi dan narasi penggembalaan lima kitab pertama Perjanjian Lama, Voltaire menganggap orang-orang Israel kuno tidak punya cita rasa estetis, tidak tahu selera dan proporsi. Semuanya yang ada dalam budaya Yahudi adalah pinjaman dari budaya lain, satu-satunya yang orisinal dan khas Yahudi adalah sikap kepala batu mereka, takhayul mereka, dan membungakan uang yang dikuduskan itu. Volatire menambahkan, “Tetapi mereka tidak perlu dibakar hidup-hidup.”
Sudah ada orang Yahudi yang menetap di Eropa sejak Romawi menguasai Palestina. Setelah Alexander Severus dibunuh para pemberontak pada tahun 235 M sewaktu menyerbu Jerman, Palestina dilanda perang antar berbagai legiun yang berebut pengaruh, pajak yang tinggi ditarik Romawi untuk mengongkosi legiun-legiunnya. Banyak orang Yahudi yang meninggalkan Palestina bergabung dengan komunitas-komunitas Yahudi di berbagai tempat, salah satunya Roma. Bahkan ketika Julius Caessar dikebumikan, komunitas Yahudi di Roma mengantar jenazahnya, sebab Caesar adalah sahabat Yahudi di seluruh imperiumnya. Pada masa Romawi sudah ada orang Yahudi yang menetap di Jerman. Pada tahun 888 M komunitas Yahudi sudah mendiami lembah Moselle di Jerman.
Setelah orang Arab menguasai Yerusalem, orang-orang Yahudi tidak berselera tinggal di sana, bukan karena ditindas, tetapi karena perekonomian tidak bagus dan menunggu Mesias. Perekonomian Prancis sedang bagus, maka mengalirlah orang-orang Yahudi ke sana. Orang-orang Yahudi dari Baghdad, Antiokhia, Damaskus, Afrika Utara, Spanyol, dan Italia berdatangan ke Prancis di mana mereka bisa lebih kreatif daripada di negeri-negeri aman namun tidak menggairahkan. Mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil atau sendirian.
Sekalipun dianggap ada perang peradaban Israel versus Yunani kehidupan orang-orang Yahudi di Eropa bukan tak tertanggungkan. Selama tiga abad sejak Jerman memeluk Kristen dan Yahudi tiba di Prancis, mereka hidup sebagai tetangga, menggunakan bahasa yang sama, berjual beli, memangku jabatan publik bersama-sama, saling mengunjungi kediaman satu sama lain, menjalankan profesi yang sama, bahkan sering punya nama yang sama. Orang Kristen dan Yahudi hanya berbeda dalam keyakinan dan pengamalan agama mereka.
Dalam rentang abad-abad yang panjang tidak sedikit Yahudi kaya raya. Pada tahun 1040 M, banyak orang Yahudi kaya yang mendiami Worms, lembah sungai Rhine di selatan Mainz. Di sana ada sebuah yeshiva di mana anak-anak Yahudi Azkhenazi kaya belajar. Bapak-bapak para pelajar itu adalah para saudagar, banyak di antara mereka yang punya kapal. Para pedagang kaya Yahudi di Prancis leluasa keluar masuk istana Kaisar Louis yang Saleh, bahkan kaisar ini masuk Yahudi. Ketika Perang Salib pecah, para saudagar Yahudi leluasa menyeberangi perbatasan dua dunia yang berperang, karena mereka bisa baca tulis, punya kontak dagang di masing-masing dunia, Islam dan Kristen. Bahkan di kalangan Yahudi Jerman generasi awal itu ada yang menjadi dokter. Tahun-tahun berikutnya, selalu ada Yahudi kaya. Ada juga yang menjadi rentenir. Orang Kristen tidak boleh membungakan pinjaman, sedangkan orang Yahudi boleh meminjamkan uang dengan bunga asalkan bukan kepada orang Yahudi. Bukan pekerjaan terhormat memang, tetapi lintah darat banyak dibutuhkan.
Di dunia Eropa Pencerahan yang pagan itu orang-orang Yahudi memeluk keyakinan Pencerahan sekokoh leluhur mereka meyakini perjanjian dengan YHWH. Orang-orang Yahudi kaya bertebaran di istana-istana pangeran Katolik maupun Protestan di berbagai negara bagian Jerman. Mereka bekerja bersama para bankir dan kontraktor Kristen. Mereka mengadopsi tata krama dan busana orang Jerman. Mereka tinggal di rumah-rumah mewah dan berhubungan erat dengan kaum ningrat Jerman berbudaya. Kontak budaya kelas atas ini diikuti oleh kelas-kelas di bawah, orang Yahudi mulai belajar bahasa negeri tempat tinggal mereka. Jembatan toleransi dibangun, orang Yahudi mulai memandang orang Kristen bukan sebagai penyembah berhala melainkan penganut iman yang seseuai untuk dunia goyim.
Memang sering ada pertikaian, ada dakwaan yang berakar pada penyaliban Yesus, ada tudingan penyebab wabah Kematian Hitam, ada perkara Dreyfus, ada provokasi Zionisme Theodor Herzl, ada kemarahan terhadap hasutan Rosa Luxemburg yang semuanya tak lepas dari keumuman hukum aksi-reaksi, namun sangat berlebihan jika berabad-abad kehidupan orang-orang Yahudi di Eropa hanya diringkas menjadi: menderita dan selalu dianiaya.
Bahwa banyak korban Yahudi berjatuhan semasa Jerman Nazi, tak ada yang menyangkal itu. Tetapi holocaust? Kata Roger Garaudy, “Menggunakan istilah “holocaust” berarti kembali mengistimewakan orang Yahudi dari seluruh korban Hitler yang jauh lebih banyak dalam perang yang menelan korban enam puluh juta jiwa manusia, laki-laki dan perempuan. Di kalangan sipil saja, tiga juta orang Polandia bukan Yahudi dimusnahkan, enam juta lebih orang Slavia non-kombatan terbunuh. Apakah demi kepentingan sendiri orang-orang Yahudi ingin dipisahkan dari seluruh korban serta mereka yang melawan Fasisme Hitler? Mengapa kematian hanya bersifat “keramat” bagi sekelompok manusia saja?

Bacaan:
Chaim Potok, Wanderings: Chaim Potok’s History of The Jews, Fawcet Crest, New York, 1980.
Roger Garaudy, Kasus Israel; Studi tentang Zionisme Politik (diterjemahkan oleh Hasan Basari), Pustaka Firdaus, Jakarta, 1992.


Sumber gambar:

No comments:

Post a Comment