Pages

Saturday, January 30, 2016

Orde Baru Lebih Baik




Orde Baru Lebih Baik

Dari kejauhan, menjelang rel kereta api Solo – Wonogiri selepas alun-alun kota Sukoharjo, tampak tanda verboden dan pengalihan lalu-lintas karena seruas jalan umum ke arah Bendosari itu dipakai untuk hajatan perkawinan. Saya menggerutu sejadi-jadinya seraya mengutuki agar pasangan yang hendak menikah itu nantinya lekas cerai atau kalau langgeng dihantui ketidakbahagiaan karena perayaan perkawinan mereka menyusahkan banyak orang yang sedang dalam perjalanan. Istri saya mengingatkan bahwa tidak boleh mendoakan yang jelek-jelek. Saya tahu. Saya hanya jengkel betul dengan kesewenang-wenangan orang menutup jalan umum untuk keperluan yang tidak penting bagi sebagian terbesar pengguna jalan. Terlebih bagi saya dan istri yang bepergian lumayan jauh dari Yogyakarta ke Ngawi bersepeda motor. Seingat saya jalur pengalihannya muter-muter dan cukup jauh. Sangat merepotkan bagi orang luar dengan perjalanan yang masih panjang.
Semasa kecil saya dahulu orang-orang kaya di Ngawi tampaknya bangga jika bisa menggelar resepsi pernikahan di Gedung Eka Kapti. Sekarang, mengikuti kecenderung yang berlaku hampir di mana saja, rupanya mereka bangga mampu menutup jalan besar dan membikin repot banyak orang yang bepergian. Seenaknya betul mereka menutup jalan. Misalnya yang saya alami pada tahun 2009 di Nglongkeh, Widodaren. Semasa bersekolah dahulu saya biasa bersepeda dari Tempurejo, Banyubiru ke Walikukun pulang pergi tidak lewat jalan utama. Sehingga ketika jalan ditutup saya tahu jalan selebar pematang menyusuri jalur irigasi yang bisa dilewati tanpa harus memutari desa. Hanya saja istri dan dua anak kami yang masih kecil-kecil harus berjalan kaki lumayan jauh.
Mengapa tidak naik angkutan umum saja? Setelah reformasi angkutan umum dari hari ke hari makin menjengkelkan hingga sebisa mungkin saya menghindarinya. Jika dahulu saya rutin pulang pergi dua pekan sekali Solo – Ngawi dengan gembira dan Yogyakarta – Ngawi juga dengan sama gembiranya tetapi frekuensinya jauh berkurang, kini sejak membayangkan masuk Terminal Giwangan saya merasa perjalanan ke Ngawi menengok orang tua saya sebagai beban tiada tara.
Baru naik bus yang antre para pengamen sudah memberi siksaan pertama dalam perjalanan. Saya tidak suka pengamen sekalipun ketika kecil dahulu senang memberi uang kepada wong mbarang (sebutan untuk pengamen dahulu). Yang disebut terakhir ini dalam pemahaman saya memang orang sengsara yang tidak bisa bekerja. Adapun yang disebut pertama cuma orang malas saja, bukan orang miskin (kebanyakan hp mereka lebih bagus dari hp saya) yang saya tahu untuk apa uang yang diperoleh. Lebih dari itu, keberadaan pengamen membuat tidak nyaman karena saya harus selalu siap berkonfrontasi sekiranya mereka memaksa. Perilaku memaksa para pengamen itu sangat sering saya jumpai di Solo, mulai dari Terminal Tirtonadi hingga Palur yang naik silih berganti. Setidak-tidaknya dahulu begitu, tak tahu sekarang karena saya hampir tak pernah lagi naik bus. Saya rela bertengkar dengan para pengamen karena sering kali uang di saku saya tak lebih banyak dari uang yang mereka raup dari menghadirkan kebisingan di tengah deru mesin. Saya ogah dihina orang-orang yang kalau diberi uang kecil dibuang begitu saja di depan pemberinya. Saya ingat ada seorang ibu yang memberi seorang pengamen 200 rupiah, pengamennya marah-marah dan membanting mata uang sah Republik Indonesia itu. Belum lagi pemaksaan mereka jika penumpang bersikap lunak. Saya pernah melihat wajah pucat pasi penumpang yang dirogoh-rogoh saku bajunya oleh pengamen yang minta rokok karena si penumpang bilang tak punya uang.
Bagi saya yang paling tidak enak adalah perilaku pengamen di pertigaan Secang, Magelang. Tampilan mereka tak ubahnya anak-anak gaul yang rapi dan wangi. Membuka acara “ngemis maksa” dengan khotbah, “Kami yakin Anda sekalian berpendidikan tinggi dan bla .... bla ... uang seribu tak akan membuat Anda bla ... bla ...” Dan setelah menarik uang penumpang seraya menyindir yang tidak memberi mereka turun. Bus belum berjalan, mereka tanpa risih mengeluarkan hp terbaru harga 1,5 jutaan dan duduk-duduk di sepeda motor bagus bersama cewek-cewek.
Hobi menutup jalan yang menyusahkan para musafir bersepeda motor dan para pengamen yang seenaknya menambah beban penumpang angkutan umum itu sepenuhnya tak mendapat tempat semasa Orde Baru. Perjalanan adalah sepotong adzab, tak semestinya diganggu oleh orang kawinan dan pengamen yang mencari uang mudah dengan menyanyi berisik tak keruan. Karena itulah saya menganggap Orde Baru lebih baik dalam hal tidak ada orang seenak pantatnya menutup jalan dan pengamen tanpa perasaan menyusahkan orang. Oh ya, para pengasong yang setengah memaksa penumpang membeli dagangan mereka tak boleh dianggap sepi. Di Tirtonadi para pengasong ini sedemikian mengganggu hingga saya pilih menaruh tas di kursi lalu turun dan baru naik hingga bus hendak berjalan. Di era Orde Baru, satu dua pengasong yang mencoba masuk terminal akan lari terbirit-birit ketika melihat seorang Satib yang mungkin melihat keberadaan mereka pun tidak.
Tetapi bukankah Orde Baru represif, penuh kolusi, korupsi dan nepotisme, sarat pelanggaran HAM dan ratusan hal jelek lainnya? Kata para ustadz Indonesianis (yang rata-rata bule itu) dalam kitab-kitab mereka memang begitu. Begitu juga menurut santri-santri sawo matang mereka, termasuk saya dahulu. Tetapi para cerdik cendekia itu mana pernah sengsara naik angkutan umum yang dijejali pengamen tanpa perasaan dan bersepeda motor berputar-putar di jalan tak lazim karena jalan utama ditutup? Lagi pula setelah beberapa teman yang menjadi petinggi rezim sekarang melakukan hal-hal yang lebih menjijikkan dari para pejabat Orde Baru saya tak lagi tertarik membicarakan hal-hal yang cuma enak diomongkan di kafe-kafe sambil memandangi dari balik kaca lalu lalang orang miskin yang berjejalan di angkutan umum menahan jengkel dengan pengamen yang naik di tiap perempatan.

Sumber gambar:

No comments:

Post a Comment